Baliho Kuat, Jembatan Sekarat, Ega Roy: Jangan Sampai Pejuang Petani Hanya Slogan

 


JAMBIKLIK.ID, BERITA KERINCI - Slogan pasangan Monadi–Murison sebagai “Pejuang Petani” kini benar-benar memasuki fase pembuktian. Di Desa Tanjung Pauh Mudik, Kecamatan Danau Kerinci Barat, masyarakat mulai menagih komitmen pembangunan Jembatan Sungai Batang Merao yang hingga kini belum juga terealisasi, sementara kondisinya kian mengkhawatirkan.

Jembatan tersebut bukan sekadar akses penyeberangan. Ia adalah satu-satunya jalur menuju lahan pertanian sekaligus urat nadi distribusi hasil panen warga. Aktivitas ekonomi petani sepenuhnya bergantung pada keberadaan jembatan ini. Ketika akses terganggu, penghasilan pun terancam.

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi memprihatinkan. Lantai jembatan terlihat rapuh dan berlubang. Beberapa bagian bahkan dilaporkan copot dari sambungan lasnya. Warga yang melintas terpaksa ekstra hati-hati, terutama saat mengangkut hasil panen dengan kendaraan bermuatan.

Tak hanya itu, di bagian bawah jembatan terlihat tumpukan tanah, kayu, dan sampah yang mengendap di sekitar tiang penyangga. Endapan tersebut berpotensi menghambat aliran sungai dan menggerus pondasi. Jika debit air meningkat saat musim hujan, tekanan terhadap struktur jembatan dikhawatirkan semakin besar dan membahayakan keselamatan warga.

Persoalan ini bukan kali pertama mencuat. Dari tahun ke tahun, keluhan serupa terus disuarakan tanpa penyelesaian permanen. Warga menilai perhatian yang diberikan selama ini masih bersifat sementara dan tambal sulam, belum menyentuh solusi menyeluruh yang memberi kepastian.

Publik pun kembali mengingat komitmen kampanye 2024, ketika janji pembangunan disampaikan secara terbuka.

“Pembangunan itu nantinya adalah bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat. Jembatan ini adalah urat nadi yang menghubungkan petani dengan hasil jerih payah,” ujar Monadi saat itu.

Kini memasuki tahun 2026, realisasi janji tersebut masih menjadi tanda tanya. Masyarakat menanti langkah konkret, bukan sekadar narasi keberpihakan.

Bagi warga Tanjung Pauh Mudik, slogan “Pejuang Petani” seharusnya diwujudkan dalam kebijakan nyata, kejelasan penganggaran, serta pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar petani.

Menanggapi kondisi tersebut, Aktivis Kerinci, Ega Roy, angkat bicara dengan nada tegas. Ia menilai komitmen keberpihakan kepada petani harus dibuktikan melalui tindakan nyata, bukan sekadar retorika politik.

“Kalau benar berpihak pada petani, jangan tunggu jembatan ini roboh dulu baru bergerak. Petani tidak butuh janji yang diulang-ulang, mereka butuh kepastian. Infrastruktur pertanian itu prioritas, bukan sisa anggaran,” tegas Ega Roy.

Ia menambahkan, Jembatan Batang Merao bukan proyek besar yang mustahil direalisasikan, melainkan kebutuhan dasar masyarakat yang menyangkut keselamatan dan penghidupan.

“Ini bukan soal politik, ini soal keselamatan dan perut rakyat. Jangan sampai slogan ‘Pejuang Petani’ hanya kuat di baliho, tapi lemah di lapangan,” sindirnya.

Menurutnya, pemerintah daerah harus segera memastikan kejelasan anggaran dan jadwal pembangunan agar persoalan ini tidak terus menjadi polemik tahunan.

Di Tanjung Pauh Mudik, jembatan bukan sekadar rangka baja yang melintasi sungai. Ia adalah penghubung sawah dengan dapur, kerja keras dengan penghidupan. Dan di sanalah, publik kini menunggu: apakah “Pejuang Petani” benar-benar hadir dalam tindakan, atau hanya tinggal slogan yang perlahan memudar bersama waktu.