Menu MBG Saat Ramadan Disorot, Komposisi Makanan Jadi Perbincangan Publik

(Ket Poto : Menu MBG yang diduga didapatkan siswa penerima di bulan Ramadan) 


JAMBIKLIK.ID, BUNGO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian masyarakat selama Ramadan 2026, khususnya terkait komposisi menu yang diterima siswa di sejumlah wilayah di Provinsi Jambi. Sejumlah foto paket makanan yang beredar di grup percakapan dan media sosial menunjukkan isi menu yang bervariasi, mulai dari roti, telur rebus, kurma, susu kotak, buah, hingga camilan kacang atau biskuit kering.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Selasa (24/2), salah satu paket MBG yang dibagikan kepada siswa berisi roti kemasan, susu, kacang polong kering, serta kurma. Paket lain memperlihatkan kombinasi telur rebus, pisang, dan makanan ringan dalam plastik kecil. Menu tersebut disebut sebagai jatah harian yang didistribusikan melalui dapur umum ke sejumlah sekolah, termasuk di wilayah Kecamatan Bathin III, Kabupaten Bungo.

Sejumlah warga mempertanyakan nilai kelayakan paket tersebut jika disesuaikan dengan anggaran MBG per anak yang disebut berkisar Rp15.000. Mereka menilai perlu ada transparansi rincian komposisi biaya dan standar gizi agar publik memahami dasar penyusunan menu.

Keluhan juga muncul terkait kesesuaian menu dengan kebutuhan anak selama Ramadan. Sebagian masyarakat menilai menu ringan seperti camilan kering kurang mengenyangkan apabila dikonsumsi saat sahur atau berbuka, sementara pihak lain berpendapat makanan tersebut tetap bermanfaat sebagai tambahan energi dan nutrisi jika disusun sesuai standar gizi.

Beberapa warga bahkan meminta pemerintah daerah serta aparat terkait meninjau langsung dapur penyedia MBG guna memastikan kualitas bahan, kebersihan pengolahan, serta kesesuaian menu dengan pedoman program. Mereka berharap evaluasi dilakukan secara objektif agar program nasional tersebut benar-benar memberi manfaat optimal bagi penerima.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara MBG daerah terkait standar komposisi menu Ramadan maupun penyesuaian pola distribusi selama bulan puasa. Namun masyarakat berharap ada penjelasan terbuka mengenai pedoman gizi, mekanisme pengawasan, serta rincian alokasi anggaran agar polemik di tengah publik dapat diluruskan.

Program MBG sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi anak usia sekolah. Karena itu, konsistensi kualitas menu, transparansi pelaksanaan, serta pengawasan distribusi menjadi faktor penting agar tujuan program dapat tercapai secara maksimal. (Ado)