Saat Syair Iyo-Iyo Menggema, Leluhur Seolah Hadir di Kenduri Sko 5 Desa Tanjung Pauh Mudik

 


JAMBIKLIK.ID, BERITA KERINCI - Langit menggantung kelabu ketika satu per satu penari melangkah perlahan memasuki arena Kenduri Sko Lima Desa Tanjung Pauh Mudik, Kecamatan Danau Kerinci Barat, Kabupaten Kerinci, Minggu (5/7/2026). Embusan angin yang membawa aroma tanah basah seolah menjadi pertanda bahwa sebuah ritual adat yang telah diwariskan turun-temurun akan kembali menghidupkan jejak para leluhur.

Lalu, keheningan itu pun terpecah.

“Iyo iyo… Depati-Depati kamai… Ninik mamak, Ninik mamak kamai… anak jantie anak batinu…”

Lantunan suara anak jantan dan anak batino mengalun lembut, menggema memenuhi ruang kenduri. Bukan sekadar nyanyian pengiring tari, melainkan doa yang menjelma dalam irama, suara pusaka yang telah hidup berabad-abad di tengah masyarakat adat Tanjung Pauh Mudik.

Setiap bait yang dilantunkan mengandung petuah tentang persatuan, musyawarah, dan penghormatan kepada Depati serta Ninik Mamak sebagai penjaga marwah adat.

“Buluk kato mupakat… yang iyo kato iyo lah buluk… yang ijik kato ijik.”

Syair itu mengalir dengan khidmat, seakan membuka tabir waktu. Dalam setiap nada, hadir kembali jejak para pendahulu yang pernah menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus. Seolah roh adat turun menyaksikan anak cucunya tetap memegang teguh amanah yang diwariskan dari masa silam.

Suasana mencapai puncak kekhidmatan ketika seorang penyanyi laki-laki melanjutkan lantunan berikutnya.

“Sairing salam merbah, salam yang lalu kami sembah kembali… Iyo Iyo…”

Nada suaranya meninggi, kemudian melandai penuh penghayatan.

“Tanjung Pauh pinang sebatang, kayo jauh lah datang, kami dekat lah tibo pulo…”

Lirik itu menjadi salam penghormatan bagi para tamu, para perantau yang pulang ke kampung halaman, sekaligus ungkapan persaudaraan yang mengikat seluruh anak negeri dalam satu ikatan adat.

Di bawah langit yang masih menaungi bumi dengan mendungnya, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako menjelma menjadi lebih dari sekadar pertunjukan budaya. Ia adalah media pewarisan nilai, ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, tempat di mana adat, sejarah, dan jati diri masyarakat kembali diperteguh.

Ketika bait terakhir berakhir, tepuk tangan bergemuruh memenuhi arena. Namun yang sesungguhnya bergema bukan hanya riuh apresiasi masyarakat, melainkan kebanggaan bahwa warisan leluhur masih hidup, masih dijaga, dan masih diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di Tanjung Pauh Mudik, Tari Iyo-Iyo Lagu Pusako bukan hanya menggerakkan tubuh para penari. Ia menggerakkan ingatan kolektif sebuah negeri adat, menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tentang persatuan, mufakat, penghormatan kepada Depati dan Ninik Mamak, serta kecintaan terhadap warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Lima Desa Tanjung Pauh Mudik.

Di sanalah adat tidak hanya dikenang, melainkan dihidupkan. Tidak hanya dipelihara, tetapi diwariskan. Sebab selama syair Iyo-Iyo masih berkumandang, selama itu pula denyut peradaban adat Tanjung Pauh Mudik akan terus hidup di hati anak jantan dan anak batino.