BBM Jadi Kunci Hidupnya PETI di TNKS, Polda Jambi Diminta Bongkar Jaringan Pemasok

 


JAMBIKLIK.ID, BERITA KERINCI - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), khususnya di wilayah perbatasan Kabupaten Kerinci dan Merangin, dinilai tidak akan berjalan tanpa pasokan bahan bakar minyak (BBM). Karena itu, Polda Jambi didesak menjadikan jalur distribusi BBM sebagai sasaran utama penindakan untuk memutus kejahatan lingkungan di kawasan konservasi negara tersebut.

Berdasarkan informasi lapangan, puluhan unit alat berat masih bebas beroperasi di dalam kawasan TNKS. Seluruh aktivitas tersebut membutuhkan BBM dalam jumlah besar dan pasokan rutin, sehingga memunculkan dugaan kuat adanya jaringan pemasok BBM ilegal yang terorganisir dan beroperasi dengan rapi.

Sumber menyebutkan, masuknya BBM ke kawasan TNKS tidak mungkin terjadi tanpa perencanaan matang. Mulai dari pengangkutan, penyimpanan, hingga pendistribusian BBM diduga melibatkan jaringan tertentu yang menguasai medan, memahami jalur-jalur tersembunyi, serta berani meloloskan BBM ke kawasan terlarang tanpa tersentuh hukum.

Informasi lain menyebutkan, pasokan BBM ke lokasi PETI tidak hanya berasal dari wilayah Jambi, tetapi juga didatangkan dari Provinsi Sumatera Barat. Jalur Tapan–Puncak serta Padang Aro–Kayu Aro disebut-sebut menjadi lintasan utama masuknya BBM dalam jumlah besar menuju kawasan TNKS.

Aktivis Kerinci, Ega Roy, menegaskan bahwa BBM merupakan urat nadi utama PETI di TNKS dan menjadi tanggung jawab Polda Jambi untuk membongkar jaringan pemasoknya.

“Selama BBM masih masuk, alat berat akan terus bekerja. Artinya, PETI di TNKS hidup karena ada pemasok BBM. Kuncinya ada di sana, dan itu wilayah kerja kepolisian,” tegas Ega Roy.

Ia menilai, penindakan yang hanya menyasar pekerja lapangan atau penyitaan alat berat tidak akan efektif jika Polda Jambi tidak menyentuh akar persoalan, yakni jaringan distribusi BBM.

“Kalau Polda Jambi serius, hentikan BBM-nya. Tangkap pemasok dan jaringannya. PETI pasti berhenti dengan sendirinya. Ini bukan sekadar imbauan, ini laporan,” ujarnya.

Ega Roy juga meminta Polda Jambi bekerja sama dengan Balai Besar TNKS (BBTNKS) serta aparat penegak hukum lainnya untuk menelusuri asal BBM, jalur distribusi, titik penimbunan, hingga pihak-pihak yang diduga melindungi peredaran BBM ilegal ke kawasan TNKS.

Hingga berita ini diturunkan, Minggu (8/2/2026), aktivitas PETI di kawasan TNKS dilaporkan masih berlangsung. Sorotan publik kini tertuju pada langkah konkret Polda Jambi dalam memutus suplai BBM yang selama ini menjadi penggerak utama rusaknya kawasan konservasi tersebut.