Mobil Diduga Milik Oknum Aparat di Kerinci Terseret Kasus BBM Ilegal untuk PETI ?

 


JAMBIKLIK.ID, BERITA KERINCI - Penangkapan empat unit mobil pengangkut BBM subsidi jenis solar oleh tim opsnal Polda Jambi di Desa Birun, Kecamatan Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin, Kamis (5/2/2026) dini hari, membuka tabir baru dalam praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Selain mengamankan puluhan jerigen solar disetiap mobil dan delapan orang pengangkut, sumber menyebutkan bahwa kendaraan yang digunakan untuk melansir BBM ke kawasan TNKS diduga milik oknum aparat yang berdinas di wilayah Kerinci. Informasi ini sontak menimbulkan tanda tanya besar, sekaligus memperkuat dugaan adanya keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam menjaga kelancaran suplai BBM ke kawasan konservasi tersebut.

Menurut sumber, BBM subsidi yang diangkut menggunakan mobil-mobil tersebut rencananya akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan puluhan unit alat berat yang masih aktif beroperasi di dalam kawasan TNKS. Seluruh rangkaian distribusi disebut telah berjalan sistematis, terencana, dan sulit tersentuh hukum.

“Mobil yang diamankan itu diduga milik oknum aparat. Para sopir hanya pengangkut. Sekarang semuanya sedang diproses di Mapolres Merangin,” ujar sumber terpercaya.

Fakta ini memperkuat dugaan bahwa aktivitas PETI di TNKS tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang jaringan kuat yang melibatkan pemasok BBM, pemilik kendaraan, hingga pihak-pihak yang memiliki akses dan kekuasaan.

Aktivis Kerinci, Ega Roy, menilai penangkapan mobil pengangkut BBM tersebut harus menjadi pintu masuk bagi Polda Jambi untuk membongkar jaringan yang lebih besar, termasuk menelusuri kepemilikan kendaraan dan aliran BBM subsidi.

“Kalau benar mobil itu milik oknum aparat, ini bukan lagi kejahatan biasa. Ini sudah masuk kategori pembiaran bahkan dugaan perlindungan terhadap kejahatan lingkungan,” tegas Ega Roy.

Ia juga menyoroti fenomena antrean panjang mobil pengisi solar di SPBU wilayah Sungai Penuh dan Kerinci selama ini. Menurutnya, praktik pengisian BBM berulang kali oleh kendaraan yang sama tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan oknum petugas SPBU.

“Mobil bisa bolak-balik isi solar sampai empat kali, padahal ada sistem barcode. Ini jelas ada permainan. BBM ini lalu mengalir ke PETI di TNKS,” ujarnya.

Ega menegaskan, BBM merupakan urat nadi utama PETI. Selama jalur suplai BBM masih dilindungi, alat berat akan terus bekerja dan TNKS akan terus dirusak.

“Tangkap sopir saja tidak cukup. Bongkar siapa pemilik mobil, siapa pemasok BBM, dan siapa yang melindungi. Kalau BBM diputus, PETI mati,” tegasnya.

Ia mendesak Polda Jambi bersikap terbuka dan profesional dengan menelusuri dugaan keterlibatan oknum aparat, serta bekerja sama dengan Balai Besar TNKS dan instansi terkait untuk mengungkap jaringan distribusi BBM ilegal hingga ke akar-akarnya.

Hingga berita ini diturunkan, Minggu (8/2/2026), aktivitas PETI di kawasan TNKS dilaporkan masih berlangsung. Publik kini menanti keberanian aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus ini tanpa pandang bulu, termasuk jika dugaan keterlibatan oknum aparat terbukti.