JAMBIKLIK.ID, BERITA KERINCI - Maraknya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), khususnya di wilayah perbatasan Kabupaten Kerinci dan Merangin, diduga kuat bergantung sepenuhnya pada pasokan bahan bakar minyak (BBM).
Informasi yang dihimpun dari lapangan menyebutkan, puluhan unit alat berat telah beroperasi di dalam kawasan konservasi negara tersebut. Operasional alat-alat berat itu dipastikan membutuhkan BBM dalam jumlah besar dan berkelanjutan, sehingga memunculkan dugaan adanya rantai distribusi BBM ilegal yang terorganisir.
Sumber lapangan mengungkapkan, masuknya BBM ke kawasan TNKS tidak mungkin dilakukan secara sporadis. Pengangkutan, penyimpanan, hingga distribusi BBM diduga melibatkan jaringan tertentu yang memahami medan dan memiliki akses untuk meloloskan pasokan ke wilayah terlarang.
Aktivis Kerinci, Ega Roy, menegaskan bahwa BBM merupakan kunci utama keberlangsungan PETI di TNKS.
“Tanpa suplai BBM, tidak mungkin alat berat bisa bekerja. Artinya, PETI di TNKS hidup karena adanya pemasok BBM. Ini harus diusut, siapa yang bermain,” ujar Ega Roy.
Ia menilai, fokus penindakan yang hanya menyasar alat berat dan pekerja lapangan tidak akan memutus mata rantai PETI, selama jalur BBM masih dibiarkan bebas masuk ke kawasan taman nasional.
“Kalau aparat serius, hentikan BBM-nya. Tangkap pemasoknya. PETI pasti mati dengan sendirinya,” tegasnya.
Ega Roy juga mendesak Kapolda Jambi, BBTNKS, dan aparat penegak hukum untuk melakukan penelusuran menyeluruh terhadap asal-usul BBM, jalur distribusi, serta pihak-pihak yang diduga membekingi masuknya BBM ke kawasan TNKS.
Hingga berita ini diturunkan, Jum’at (6/2/2026), aktivitas PETI di kawasan TNKS disebut masih berlangsung. Publik kini menanti langkah tegas aparat untuk memutus suplai BBM sebagai upaya nyata menyelamatkan kawasan konservasi dari kerusakan yang lebih parah.









Social Plugin