JAMBIKLIK.ID, BERITA KERINCI - Di Danau Kerinci, slogan “pejuang petani” tak lagi terdengar sebagai kebanggaan, melainkan berubah menjadi pertanyaan yang menggantung. Saat sawah mengering dan nelayan kehilangan penghasilan, masyarakat justru menyaksikan lambannya respons pemerintah daerah dalam menghadapi krisis air yang dampaknya kian meluas.
Di Desa Sanggaran Agung dan Pulau Pandan, petani tak bisa lagi turun ke sawah. Kincir air tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung irigasi berhenti berfungsi akibat surutnya debit Danau Kerinci. Lahan pertanian terbengkalai, sementara kebutuhan hidup tak menunggu kebijakan.
Kondisi nelayan tak kalah memprihatinkan. Di sejumlah desa di Kecamatan Danau Kerinci, hasil tangkapan menurun drastis seiring menyusutnya permukaan air. Bagi nelayan kecil, krisis ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ancaman langsung terhadap dapur keluarga.
Ironisnya, di tengah situasi tersebut, yang mengemuka justru penjelasan prosedural. Persoalan disebut teknis. Tindak lanjut menunggu rekomendasi. Koordinasi disebut masih berjalan. Semua terdengar rapi di atas kertas, tetapi sunyi di sawah dan danau.
“Keluhan ini sudah lama disampaikan. Tapi yang kami lihat hanya alasan, bukan tindakan,” ujar Septa, warga Danau Kerinci, Selasa (10/2/2026).
Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan publik yang lebih luas: ketika krisis menyentuh hajat hidup orang banyak, masyarakat berharap pemimpinnya hadir lebih dulu, bukan bersembunyi di balik alur birokrasi. Kepala daerah memiliki mandat, kewenangan, dan tanggung jawab moral untuk bertindak cepat dalam situasi darurat sosial-ekologis.
Menunggu rekomendasi legislatif memang sah secara administratif. Namun menjadikan prosedur sebagai alasan utama di tengah penderitaan rakyat justru menimbulkan kesan abainya kepemimpinan. Kepemimpinan sejati diukur bukan dari seberapa rapi penjelasan, melainkan dari seberapa cepat keberpihakan diwujudkan.
Krisis air Danau Kerinci kini menjadi cermin. Apakah slogan “pejuang petani” benar-benar mencerminkan arah kebijakan dan keberanian mengambil keputusan, atau sekadar jargon politik yang kehilangan makna ketika diuji realitas.
Di hadapan sawah yang mengering dan danau yang terus surut, masyarakat tak lagi menunggu narasi. Mereka menunggu tindakan. Dan bagi seorang pemimpin, di situlah makna keberpihakan sesungguhnya dipertaruhkan.









Social Plugin