Pejuang Petani atau Pejuang Seremonial? Ujian di Tanjung Pauh Mudik

JAMBIKLIK.ID, BERITA KERINCI - Slogan “Pejuang Petani” yang digaungkan dalam Pilkada 2024–2029 terdengar kuat, emosional, dan penuh harapan. Di daerah agraris seperti Kerinci, keberpihakan kepada petani bukan sekadar strategi komunikasi politik, melainkan kebutuhan riil yang menyentuh hajat hidup masyarakat. Namun hari ini, publik mulai menuntut lebih dari sekadar narasi.

Di Desa Tanjung Pauh Mudik, Kecamatan Danau Kerinci Barat, komitmen itu sedang diuji. Jembatan Sungai Batang Merao—yang menjadi akses utama warga menuju lahan pertanian—hingga kini belum juga mendapatkan pembangunan permanen, sementara kondisinya semakin mengkhawatirkan.

Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua tepian sungai. Ia adalah satu-satunya jalur menuju sawah, sekaligus urat nadi distribusi hasil panen. Ketika jembatan bermasalah, ekonomi petani ikut terguncang. Risiko kecelakaan meningkat, biaya angkut membengkak, dan rasa cemas menjadi bagian dari rutinitas harian.

Fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Lantai jembatan terlihat rapuh dan berlubang di sejumlah titik. Beberapa bagian bahkan dilaporkan lepas dari sambungan. Warga terpaksa melintas dengan penuh kewaspadaan, terutama saat membawa gabah dan hasil panen menggunakan kendaraan bermuatan.

Di bagian bawah jembatan, material seperti tanah dan kayu menumpuk di sekitar tiang penyangga. Saat debit air meningkat, tekanan terhadap struktur jembatan tentu menjadi ancaman tersendiri.

“Kami hanya melewati satu-satunya jembatan ini untuk menuju ke sawah kami dan juga untuk mengangkut gabah, semuanya melewati jembatan ini,” ujar Mail, warga setempat.

Keluhan ini bukan baru muncul kemarin. Persoalan tersebut telah berulang kali disampaikan, namun solusi yang diharapkan belum juga tampak secara nyata. Warga menilai penanganan selama ini masih bersifat sementara, belum menyentuh langkah permanen yang memberi kepastian jangka panjang.

Masyarakat tentu masih mengingat pernyataan kampanye 2024, ketika komitmen pembangunan disampaikan secara terbuka.

“Pembangunan itu nantinya adalah bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat. Jembatan ini adalah urat nadi yang menghubungkan petani dengan hasil jerih payah,” ujar Monadi saat itu.

Namun di tengah kondisi jembatan yang kian memprihatinkan, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan konsistensi terhadap slogan tersebut. Di ruang publik dan media sosial, perhatian kepala daerah lebih sering terlihat dalam berbagai agenda seremonial dan kegiatan non-formal—mulai dari aktivitas hobi hingga menghadiri acara-acara perayaan masyarakat. Tidak ada yang keliru dengan kehadiran dalam kegiatan sosial, tetapi publik berharap perhatian yang sama kuatnya juga tercurah pada persoalan mendesak yang menyangkut hajat hidup petani.

Gelar “Pejuang Petani” bukanlah simbol yang berdiri sendiri, ia menuntut konsistensi antara ucapan dan kebijakan.

Petani tidak meminta kemewahan. Mereka hanya membutuhkan akses yang aman dan layak agar bisa bekerja dengan tenang serta memastikan hasil panen sampai ke pasar tanpa risiko berlebihan. Infrastruktur dasar seperti jembatan adalah fondasi keberlanjutan ekonomi desa.

Kini pertanyaannya sederhana: kapan komitmen itu diwujudkan dalam tindakan konkret? Waktu akan menjadi penguji, dan keputusan yang diambil hari ini akan menentukan apakah slogan tersebut akan dikenang sebagai janji, atau sebagai bukti keberpihakan yang nyata.